Apakah Gula Benar-Benar Menyebabkan Hiperaktif pada Anak-Anak?

Anda mungkin mendengarnya sepanjang waktu. Seorang ibu berkata, “Neneknya membuat dia semua ganteng pada gula dan kemudian mengirimnya pulang!” Atau seorang ayah berkata, “Jangan beri dia terlalu banyak gula sebelum tidur atau dia tidak akan pernah tidur!” Tetapi beberapa orang tua bertanya-tanya, apakah gula benar-benar menyebabkan hiperaktif pada anak-anak?

Historical Link Antara Gula dan Hiperaktif

Gagasan bahwa gula menyebabkan hiperaktif berasal dari diet populer pada tahun 1973, disebut sebagai Feingold Diet.

Dr. Feingold menganjurkan diet bebas pewarna buatan dan penyedap buatan sebagai sarana untuk mengobati hiperaktif.

Meskipun dia tidak secara khusus menyarankan bahwa orang tua harus menghilangkan gula, gagasan itu menyebar dengan cepat bahwa semua jenis makanan tambahan dapat dikaitkan dengan masalah perilaku . Selama bertahun-tahun, gagasan bahwa gula bisa menjadi akar penyebab hiperaktif berlangsung.

Studi Penelitian Terkini

Gagasan bahwa kue dan kue mangkuk menyebabkan perilaku liar pada anak-anak telah memicu banyak perdebatan di komunitas medis. Untungnya, perdebatan itu telah menyebabkan beberapa studi penelitian mendalam.

Pada tahun 1995, Journal of American Medical Association mengkaji berbagai penelitian. Para peneliti menyimpulkan bahwa gula tidak menyebabkan hiperaktif pada anak-anak. Mereka mengakui ada kemungkinan bahwa gula mungkin memiliki efek kecil pada sejumlah kecil anak-anak.

Harapan Orang Tua terhadap Gula

Ada juga banyak spekulasi bahwa bukan gula yang menyebabkan hiperaktif.

Sebaliknya, mungkin orang tua percaya bahwa gula menyebabkan hiperaktivitas yang secara tidak sengaja mendorong anak-anak menjadi lebih aktif setelah makan makanan manis.

Orangtua mungkin hanya melaporkan peningkatan hiperaktivitas setelah anak-anak mereka mengonsumsi gula karena mereka mencari hiperaktivitas. Atau, mereka mungkin mengatakan hal-hal kepada anak-anak mereka seperti, "Anda akan terpental dari dinding ketika Anda selesai makan semua permen itu," yang dapat mendorong anak-anak untuk menjadi lebih energik.

Sebuah studi 1994 yang diterbitkan dalam Journal of Abnormal Psychology menunjukkan efek ini. Ibu-ibu yang berusia 5 hingga 7 tahun diberi tahu bahwa anak-anak mereka akan menerima gula dengan dosis tinggi. Kemudian, para ibu diminta untuk menilai perilaku anak-anak mereka.

Mayoritas ibu menilai perilaku putra mereka lebih hiperaktif, meskipun setengah dari anak-anak tidak benar-benar diberi gula sama sekali. Para peneliti menyimpulkan bahwa orang tua yang percaya perilaku dampak gula akan berpikir anak-anak mereka menjadi lebih hiperaktif setelah mengkonsumsi makanan manis.

Apa yang Harus Diketahui Orang Tua tentang Gula

Meskipun es krim sundae atau sepotong kue tidak akan meroket tingkat energi anak Anda, masih ada beberapa alasan kuat untuk menghindari memanjakan anak Anda dengan makanan manis. Berikut adalah beberapa alasan untuk memperdagangkan cookie untuk wortel:

Meskipun gula tidak mungkin membuat anak Anda hiper, pencuci mulut, minuman manis, dan camilan manis lainnya harus dikonsumsi secukupnya demi kesehatan anak Anda. Tetapkan batasan pada apa yang Anda izinkan anak Anda makan dan menjadi teladan yang baik dalam hal kesehatan dan gizi.

Referensi:

Wolraich ML, Wilson DB, White J. Pengaruh Gula pada Perilaku atau Kognisi pada Anak-Anak: Sebuah Meta-analisis. JAMA. 1995; 274 (20): 1617-1621. doi: 10.1001 / jama.1995.03530200053037.

Hoover DW, Millich R. Pengaruh harapan konsumsi gula pada interaksi ibu-anak. Jurnal Psikologi Abnormal. 1994 22 Agustus (4): 501-15.