Bagaimana dan Mengapa Mengajarkan Remaja Anda untuk Mengenali Cerita Palsu Berita

Sementara sebagian besar orang dewasa menyadari bahwa semua yang mereka baca di internet tidak benar, para remaja jauh lebih mudah tertipu. Mereka lebih cenderung percaya 'berita palsu' dan mereka kesulitan membedakan iklan dan hiburan dari berita.

Sebuah penelitian di Stanford University menemukan bahwa 82 persen siswa sekolah menengah tidak dapat membedakan antara konten yang disponsori — bahkan ketika diberi label seperti itu — dan berita nyata.

Dan ketika datang untuk menilai kredibilitas sebuah cerita di media sosial, studi menemukan remaja berdasarkan alasan mereka pada ukuran gambar grafik. Banyak dari mereka yang menyimpulkan foto yang lebih besar berarti ceritanya lebih kredibel.

Jelas, fakta bahwa remaja saat ini adalah penduduk asli digital tidak berarti mereka memahami literasi media dasar. Banyak dari mereka tidak mengerti cara berpikir kritis tentang konten yang mereka lihat.

Mengapa Kurangnya Keterampilan Media Adalah Masalah untuk Remaja

Rata-rata, remaja menghabiskan sembilan jam per hari menggunakan perangkat elektronik mereka. Itu berarti remaja dibombardir dengan iklan, berita, dan pesan media sosial banyak dari jam bangun mereka.

Ketika anak-anak tidak cukup paham untuk mengenali bagaimana media memengaruhi mereka, atau mereka tidak memahami pesan yang mereka serap, mereka cenderung rentan terhadap berbagai masalah. Berikut adalah beberapa bahaya yang ditimbulkan oleh kurangnya literasi media:

Bagaimana Mengajarkan Literasi Media Dasar

Sangat penting untuk menghabiskan waktu berbicara dengan remaja Anda tentang berita dan bagaimana media bekerja. Studi menunjukkan anak-anak mengalami lebih sedikit efek berbahaya ketika mereka telah diajarkan keterampilan literasi media dasar. Inilah cara Anda mengajari anak Anda untuk mengevaluasi konten yang dilihatnya:

Jadikan literasi media sebagai topik pembicaraan yang sedang berlangsung di rumah Anda. Gunakan contoh kehidupan nyata dan berita kapan pun Anda bisa dan rencanakan untuk menjadikan literasi media sebagai percakapan yang berkelanjutan.

> Sumber:

> Common Sense Media: Sensus Sense Umum: Penggunaan Media oleh Tweens dan Remaja

> Donald, Brooke. Peneliti Stanford menemukan siswa mengalami kesulitan menilai kredibilitas informasi online. Stanford Graduate School of Education.

> Krayer A, Ingledew DK, Iphofen R. Perbandingan sosial dan citra tubuh pada masa remaja: pendekatan teori yang di dasarkan. Penelitian Pendidikan Kesehatan . 2007; 23 (5): 892-903. doi: 10.1093 / her / cym076.