Temukan bagaimana mengajar empati dapat mencegah bullying
Kebaikan dan kasih sayang adalah kualitas yang diharapkan semua orang tua untuk ditanamkan pada anak-anak mereka. Tetapi mencapai tujuan ini membutuhkan lebih dari sekadar meminta anak Anda melakukan hal-hal baik untuk orang lain. Bahkan, orang-orang yang baik hati dimotivasi oleh perasaan empati. Mereka dapat melihat berbagai hal dari sudut pandang orang lain dan memahami bagaimana perasaan mereka.
Mereka juga dapat mengantisipasi apa yang mungkin membuat seseorang merasa lebih baik. Ketika mereka dapat melakukan hal-hal ini, mereka benar-benar empatik.
Empati adalah komponen utama kecerdasan emosi. Dan jika diajarkan dengan benar, empati bisa sangat membantu mencegah bullying . Terlebih lagi, penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang berempati memiliki hubungan yang lebih baik dan berkinerja lebih baik di sekolah. Inilah tujuh cara yang dapat Anda ajarkan kepada anak Anda untuk bersikap empati.
1. Pastikan Kebutuhan Emosional Anak Anda Terpenuhi
Sangat sulit bagi anak-anak untuk memperlakukan orang lain dengan baik jika mereka tidak merasa dicintai. Salah satu alasan anak-anak menindas orang lain adalah bahwa mereka tidak merasa baik tentang diri mereka sendiri atau mereka iri pada orang lain. Orangtua tidak dapat mengharapkan anak-anak mereka untuk mencintai dan baik hati jika mereka tidak diperlakukan dengan cinta dan kebaikan. Hal ini terutama berlaku untuk korban bullying atau korban bullying saudara kandung . Bahkan orang tua yang bermaksud baik melakukan kesalahan ketika menyangkut kebutuhan emosi seorang anak.
Misalnya, menuntut nilai sempurna, mengharapkan keunggulan atletik atau bahkan mendorong anak Anda untuk menjadi populer dapat membuat anak merasa tidak memadai dan mengarah pada perilaku bullying . Sebaliknya, rayakan siapa anak Anda, kerja kerasnya, dan pencapaiannya serta bekerjalah untuk membimbingnya menuju perilaku yang lebih baik. Juga berusaha untuk menanamkan ketahanan , harga diri , keterampilan sosial , dan ketegasan .
2. Pastikan Anak-Anak Dapat Mengidentifikasi dan Membagi Perasaan Mereka
Ketika anak-anak memahami bagaimana perasaan mereka dan dapat menyebutkan perasaan mereka, mereka lebih siap untuk mengidentifikasi perasaan yang sama pada orang lain. Biarkan juga anak-anak Anda kesempatan untuk mengekspresikan perasaan mereka, bahkan perasaan negatif. Misalnya, dorong anak Anda untuk memberi tahu Anda ketika dia marah, sedih atau frustrasi dan melibatkannya dalam percakapan. Tujuannya adalah agar anak Anda belajar mengomunikasikan perasaannya dengan cara yang sehat tanpa tantrum, kekerasan, atau penindasan.
3. Ajak Anak-Anak Menelusuri Perspektif Lain
Mengajar anak-anak untuk melihat suatu situasi dan memahami bagaimana hal itu bisa dialami dari sudut pandang orang lain adalah keterampilan hidup yang penting. Misalnya, tanyakan kepada anak Anda bagaimana mendorong kereta belanja mungkin lebih menantang bagi seorang lansia? Bagaimana dengan ibu tiga anak? Anak-anak yang terampil dalam melihat perspektif lain cenderung memiliki kecerdasan emosional yang lebih tinggi. Mereka juga cenderung lebih sukses karena mereka mampu memeriksa masalah dari semua sudut pandang. Keterampilan ini juga bermanfaat dalam pencegahan penindasan. Anak-anak yang dapat melihat hal-hal dari sudut pandang yang berbeda mungkin lebih memahami bagaimana siswa berkebutuhan khusus, siswa berbakat , dan siswa alergi makanan merasa dalam situasi yang berbeda.
Terlebih lagi, masing-masing kelompok mahasiswa ini sering diganggu. Tetapi jika anak-anak mampu memahami kehidupan dari perspektif mereka, mereka cenderung tidak menargetkan mereka.
4. Model Empati Menggunakan Peluang Sehari-hari
Bicaralah dengan anak-anak Anda tentang bagaimana perasaan orang lain dan mengapa merespons dengan cara yang Anda lakukan. Misalnya, mengapa Anda memasak makan malam untuk tetangga Anda atau membersihkan rumah orang tua Anda? Pastikan anak-anak Anda melihat Anda melakukan hal-hal ini dan bahwa mereka tahu mengapa Anda melakukannya. Carilah contoh sehari-hari juga. Entah itu program televisi, cerita dalam buku atau situasi kehidupan nyata, bicarakan dengan anak-anak Anda tentang bagaimana perasaan orang lain dalam skenario apa pun.
Kemudian, libatkan anak-anak Anda dengan meminta pendapat dan pendapat mereka. Ketika anak-anak dapat mengenali situasi di mana orang lain mungkin merasa sedih atau terluka, mereka akan lebih siap untuk mengetahui apa yang harus dilakukan ketika mereka menyaksikan bullying . Mereka juga akan cenderung terlibat dalam perilaku yang menyakitkan seperti agresi relasional , panggilan nama , dan perilaku gadis yang berarti .
5. Ajarkan Anak-Anak untuk Menemukan Tempat Bersama dengan Orang Lain
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak lebih cenderung merasa empati terhadap seseorang jika mereka dapat berhubungan dengan bagaimana perasaan seseorang. Jadi, jika anak-anak Anda kehilangan kakek-nenek atau hewan peliharaan, mereka mungkin lebih berempati terhadap teman sekelas yang mengalami situasi serupa. Demikian pula, jika anak Anda telah ditindas atau mengalami penindasan maya, mereka lebih mungkin mengetahui bagaimana perasaan korban lain. Ada rasa pemberdayaan yang muncul ketika anak-anak dapat mengubah sesuatu yang terjadi pada mereka menjadi sesuatu yang positif.
6. Ajak Anak-Anak untuk Membayangkan Bagaimana Orang Lain Terasa
Mengetahui bagaimana perasaan orang lain dalam situasi tertentu adalah apa yang menjadi empati. Carilah peluang untuk mendiskusikan bagaimana perasaan orang lain. Meskipun penting untuk membagikan pemikiran Anda, izinkan anak Anda untuk berbicara juga. Ajukan pertanyaan terbuka seperti, "Apa yang Anda lihat?" Dan "Apa yang Anda ingin seseorang lakukan jika Anda berada dalam situasi itu?" Ketika anak-anak meluangkan waktu untuk berhenti dan berpikir tentang bagaimana sesuatu mungkin membuat orang lain merasa, mereka lebih mungkin untuk berdiri atau mendapatkan bantuan untuk seseorang yang sedang diganggu.
7. Bicaralah dengan Anak-Anak Tentang Bagaimana Perilaku Mereka Mempengaruhi Orang Lain
Apakah anak Anda pengganggu , menyebarkan desas-desus dan gosip , atau hanya berjuang untuk bersikap baik, penting bagi Anda untuk membicarakan konsekuensi dari perilakunya. Penting juga untuk mendorong anak Anda untuk mempertimbangkan orang lain sebelum mengambil keputusan. Bahkan sesuatu yang sederhana seperti memposting gambar ke media sosial dapat memengaruhi orang lain dengan cara yang mungkin tidak disadari oleh anak Anda. Misalnya, anak Anda dapat memposting gambar dari pesta tanpa menyadari bahwa teman-teman yang tidak diundang ke pesta itu mungkin terluka.
Ingat, bersikap empatik atau memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, jauh lebih dari sekadar bersikap baik. Anak-anak yang empati memahami perasaan mereka dan menggunakannya untuk membuat keputusan. Mereka juga memahami orang lain, dapat mengelola stres dan berhubungan baik dengan orang lain. Pada akhirnya, memberikan empati, tidak hanya mencegah bullying tetapi juga mempersiapkan anak-anak untuk sukses dalam hidup.